Get me outta here!

Jumat, 02 Agustus 2013

Dunia ini Indah, terlenakah kita?

"Hai kaumku, Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan Sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekal." (Q.S. Al-Mu'min: 39)

Anda suka pemandangan dalam laut? Saya sendiri belum pernah menyelam dan melihat sendiri secara langsung bagaimana sebenarnya rupa cantiknya pemandangan dalam laut. Tapi melihatnya dalam rekaman atau liputan para penjelajah di televisi, sungguh sangat indah dan cantik, dan tak ada kata yang pantas saya ucapkan selain Subhanallah, maha besar Allah dengan segala penciptaan-Nya yang dapat menciptakan indahnya pemandangan dalam sebuah laut. Dan itu hanya sebagian kecil dari indahnya dunia, dan indahnya seluruh dunia tak bisa dibandingkan dengan indahnya surga Allah.
Suatu saat teman saya bercerita tentang seorang penyelam. Penyelam tersebut diberikan sebuah tugas untuk mengumpulkan mutiara di laut yang akan dijadikan modal dia hidup di daratan. Dalam tugasnya menyelam ia diberikan bekal sebuah tabung oksigen yang terbatas, artinya dia harus menngumpulkan mutiara sebanyak-benyaknya sebelum oksien dalam tabung gas itu habis. Maka berangkatlah ia menyelam ke dalam lautan. Selama menyelam ia terpesona dengan indahnya pemandangan di dalam laut, cantiknya  berbagai macam ikan berwarna-warni yang berenang berkelompok, tumbuhan-tumbuhan laut, karang laut yang menjadi tempat bersembunyi para ikan, bersatu dalam air laut jernih dan membentuk kecantikan yang sempurna. Keindahan itu pun membuat ia terlena dan melupakan niat awalnya untuk mencari mutiara. Padahal tabung oksigen akan segera habis, dan dia belum mendapatkan mutiara untuk modal hidup di daratan.
Kisah itu diceritakan oleh seorang temanku kepadaku. Jika kita adalah penyelam itu apakah kita juga akan sama sepertinya yang terlena dengan keindahan sementara? Saudaraku, kisah itu adalah seperti juga hidup kita sekarang. Indahnya dunia ini terkadang membuat kita terlena dan membuat kita lupa akan kehidupan yang sebenarnya. Saat itu aku terdiam. Apakah saat ini aku sedang terlena dengan dunia? Mungkin saat ini aku tau bahwa dunia ini hanyalah sementara dan ada yang jauh lebih indah yang telah Allah janjikan berulang kali dalam ayat-ayat Nya. Namun ternyata diri ini lebih sering percaya pada penglihaan manusia yang terbatas, pada apa-apa yang kelihatannya tampak namun ternyata semu.
Dalam sebuah hadits rasulullah telah mengingatkan kita.
Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memegang pundak kedua pundak saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “, Ibnu Umar berkata : Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu “ (Hadits Riwayat Bukhori No. 6416)
Di dunia ini kita ibarat seorang pengembara, yang hanya singgah untuk sementara waktu, dunia bukan merupakan tanah air bagi dirinya, juga karena dunia membatasi dirinya dari negerinya yang sebenarnya dan menjadi tabir antara dirinya dengan tempat tinggalnya yang abadi. Imam Abul Hasan Ali bin Khalaf dalam syarah Bukhari berkata bahwa Abu Zinad berkata Hadits ini bermakna menganjurkan agar sedikit bergaul dan sedikit berkumpul dengan banyak orang serta bersikap zuhud kepada dunia.
Seperti halnya seorang pengembara yang hanya membawa bekal sekadarnya agar sampai ke tempat yang dituju. Begitu pula halnya dengan seorang mukmin dalam kehidupan di dunia ini hanyalah membutuhkan sekadar untuk mencapai tujuan hidupnya.
Abdullah bin Umar berkata : “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam melihat aku ketika aku dan ibuku sedang memperbaiki salah satu pagar milikku. Beliau bertanya; ‘Sedang melakukan apa ini wahai Abdullah?’ Saya jawab : ‘Wahai Rasulullah, telah rapuh pagar ini, karena itu kami memperbaikinya’. Lalu beliau bersabda : ‘Kehidupan ini lebih cepat dari rapuhnya pagar ini’
Seperti juga penyelam yang memiliki oksigen terbatas, demikiah juga hidup kita yang terbatas oleh kematian dan kematian itu dihadapi dengan bekal amal shalih. Ibnu Umar menganjurkan manusia untuk mempersedikit angan-angan. Janganlah menunda amal yang dapat dilakukan pada malam hari sampai datang pagi hari, tetapi hendaklah segera dilaksanakan. Begitu pula jika berada di pagi hari, janganlah berbiat menunda sampai datang sore hari dan menunda amal di pagi hari samapi datang malam hari. Jangan biarkan kita terlena dan melupakan tujuan hidup kita, padahal kematian sangatlah dekat dengan kita.
Pesona nya bumi tak akan lelah mengoda, dan dunia akan selalu dipenuhi hiruk pikuk manusia yang mengejarnya. Tapi lebih cepat dari rapuhnya sebuah pagar, seperti fatamorgana air di padang pasir, maka begitulah kesenangan dunia.

#Jakarta, Febuari 2012 (A.w)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar